Profesi
Jurnalis
Jurnalis mencari, memverifikasi, dan menyusun informasi menjadi berita yang akurat dan bermanfaat bagi publik.
Sehari-hari mengerjakan apa?
Jurnalis bekerja dengan tenggat. Hari kerjanya dimulai dari rapat redaksi untuk menentukan liputan, dilanjutkan pencarian data, wawancara narasumber, peliputan lapangan, verifikasi informasi dari beberapa sumber, lalu penulisan berita yang harus jelas dan tidak menyesatkan. Bagian yang paling menentukan kualitas adalah verifikasi: memastikan klaim benar, membedakan fakta dan opini, dan memberi ruang bagi pihak yang disebut. Selain berita harian, ada liputan mendalam yang memerlukan riset berminggu-minggu, serta format lain seperti video, audio, dan konten media sosial. Tempat kerjanya meliputi media cetak dan daring, televisi dan radio, kantor berita, media khusus bidang tertentu, serta media independen. Jenjang kariernya bergerak dari reporter ke reporter senior, redaktur, editor pelaksana, hingga pemimpin redaksi; sebagian berpindah ke komunikasi korporat, riset, atau produksi konten. Profesi ini cocok bagi orang yang penasaran, berani bertanya, tahan ditolak narasumber, dan disiplin menulis cepat. Kurang cocok bagi yang menginginkan jam kerja teratur, karena peristiwa penting sering terjadi di luar jam kantor dan menuntut kesiapan meliput kapan saja.
Tugas utama
- Mengikuti rapat redaksi dan menentukan sudut liputan
- Mencari data dan dokumen pendukung
- Mewawancarai narasumber
- Meliput peristiwa di lapangan
- Memverifikasi informasi dari beberapa sumber
- Menulis berita sesuai tenggat
- Menyunting dan memperbaiki naskah bersama redaktur
- Membangun jaringan narasumber
Keterampilan yang dipakai
Teknis
- Teknik reportase dan wawancara
- Penulisan berita dan feature
- Verifikasi informasi
- Etika dan hukum pers
- Riset data dan dokumen
- Produksi konten multimedia
Non-teknis
- Rasa ingin tahu
- Keberanian bertanya
- Kecepatan bekerja di bawah tenggat
- Kemampuan mendengarkan
- Integritas
Jalur pendidikannya
S1 Jurnalistik atau Ilmu Komunikasi (±4 tahun), atau bidang lain dengan portofolio tulisan → magang di ruang redaksi → reporter → redaktur dan editor; uji kompetensi wartawan menjadi standar profesi di industri media.
Sertifikasi atau izin yang biasanya diperlukan
- Sertifikat Uji Kompetensi Wartawan (UKW)
Jurusan yang mengarah ke sini
Kampus yang membuka jurusannya
Program studi terbit dengan data paling lengkap. Bukan peringkat.
-
S1 Sastra IndonesiaUnggul
UI Kota Depok
-
S1 Ilmu PolitikUnggul
UI Kota Depok
-
S1 Ilmu KomunikasiA
UI Kota Depok
-
S1 Bahasa dan Sastra IndonesiaUnggul
UGM Kabupaten Sleman
-
S1 Ilmu KomunikasiUnggul
UGM Kabupaten Sleman
-
S1 Politik dan PemerintahanUnggul
UGM Kabupaten Sleman
-
S1 Komunikasi dan Pengembangan MasyarakatUnggul
IPB Kota Bogor
-
D4 Komunikasi Digital dan MediaUnggul
IPB Kota Bogor
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah harus kuliah jurnalistik untuk menjadi jurnalis?
Tidak wajib. Banyak jurnalis berasal dari jurusan lain dan masuk lewat portofolio tulisan, meski pendidikan jurnalistik memberi dasar etika, hukum pers, dan teknik reportase.
Apakah profesi ini masih relevan di era media sosial?
Justru fungsi verifikasi menjadi makin penting di tengah banjir informasi, meski bentuk penyajian berita berubah mengikuti kebiasaan pembaca.
Apa yang harus disiapkan sejak SMA?
Kebiasaan membaca luas, latihan menulis rutin, dan pengalaman di media sekolah atau komunitas sangat membantu membangun portofolio awal.
Sumber: Kompilasi Universitas.id Diperbarui deskripsi disusun sendiri, bukan salinan sumber mana pun