Profesi
Content Strategist
Content strategist merencanakan konten yang dibuat sebuah merek atau organisasi, menentukan topik, kanal, dan cara mengukur hasilnya.
Sehari-hari mengerjakan apa?
Content strategist berada satu tingkat di atas pembuatan konten harian. Ia menentukan untuk siapa konten dibuat, masalah apa yang dijawab, kanal mana yang dipakai, dan bagaimana keberhasilannya diukur. Kegiatan hariannya meliputi riset audiens dan kata kunci, menyusun kalender konten, membuat panduan gaya dan tata bahasa merek, memberi arahan kepada penulis dan desainer, menelaah naskah, serta menganalisis performa konten untuk memutuskan apa yang dilanjutkan atau dihentikan. Di organisasi yang lebih kecil, ia juga ikut menulis dan memproduksi konten. Pekerjaan ini menuntut keseimbangan antara kualitas naratif dan data. Tempat kerjanya meliputi perusahaan teknologi, e-commerce, media, agensi digital, lembaga pendidikan, dan organisasi nirlaba. Jenjang kariernya berkembang dari penulis konten ke content strategist, content lead, hingga head of content atau brand; sebagian berpindah ke pemasaran produk atau menjadi konsultan. Profesi ini cocok bagi orang yang senang menulis sekaligus membaca data, teliti pada konsistensi bahasa, dan mampu memberi umpan balik yang membangun kepada tim kreatif. Kurang cocok bagi yang hanya ingin berkarya bebas tanpa target terukur, karena setiap konten biasanya dikaitkan dengan tujuan bisnis atau komunikasi tertentu.
Tugas utama
- Melakukan riset audiens dan kebutuhan informasi
- Menyusun strategi dan kalender konten
- Menentukan topik dan kanal distribusi
- Membuat panduan gaya bahasa merek
- Memberi arahan kepada penulis, desainer, dan videografer
- Menelaah serta menyunting naskah konten
- Menganalisis performa konten dan tren pencarian
- Menyusun laporan dan rekomendasi perbaikan
Keterampilan yang dipakai
Teknis
- Strategi konten dan riset audiens
- Copywriting dan penyuntingan
- Optimasi mesin pencari untuk konten
- Analitik konten dan pengukuran kinerja
- Manajemen kalender editorial
- Dasar produksi konten multimedia
Non-teknis
- Kemampuan bercerita
- Berpikir analitis
- Memberi umpan balik konstruktif
- Manajemen waktu
- Kolaborasi lintas tim
Jalur pendidikannya
S1 Ilmu Komunikasi, Jurnalistik, Sastra, atau bidang bisnis digital (±4 tahun) → membangun portofolio tulisan dan proyek konten → penulis konten → content strategist hingga content lead.
Sertifikasi atau izin yang biasanya diperlukan
- Sertifikasi analitik digital atau optimasi mesin pencari
Jurusan yang mengarah ke sini
Kampus yang membuka jurusannya
Program studi terbit dengan data paling lengkap. Bukan peringkat.
-
S1 Sastra IndonesiaUnggul
UI Kota Depok
-
S1 Sastra InggrisUnggul
UI Kota Depok
-
S1 Ilmu KomunikasiA
UI Kota Depok
-
S1 Bahasa dan Sastra IndonesiaUnggul
UGM Kabupaten Sleman
-
S1 Sastra InggrisUnggul
UGM Kabupaten Sleman
-
S1 Ilmu KomunikasiUnggul
UGM Kabupaten Sleman
-
D4 Bahasa InggrisBaik
UGM Kabupaten Sleman
-
S1 Komunikasi dan Pengembangan MasyarakatUnggul
IPB Kota Bogor
Pertanyaan yang sering muncul
Apa bedanya content strategist dan content writer?
Content writer memproduksi naskah, sedangkan content strategist menentukan arah, prioritas topik, kanal, dan ukuran keberhasilan konten secara keseluruhan.
Apakah perlu paham SEO?
Sangat perlu untuk konten yang mengandalkan pencarian, karena riset kata kunci dan struktur konten menentukan apakah tulisan bisa ditemukan pembaca.
Bagaimana memulai tanpa pengalaman kerja?
Membangun portofolio berisi tulisan yang terbit, disertai catatan tujuan dan hasil yang terukur, biasanya lebih meyakinkan daripada sekadar contoh naskah.
Sumber: Kompilasi Universitas.id Diperbarui deskripsi disusun sendiri, bukan salinan sumber mana pun