Profesi
Editor Video
Editor video menyusun potongan gambar dan suara menjadi tayangan yang runtut, berirama, dan sesuai tujuan produksinya.
Sehari-hari mengerjakan apa?
Editor video menentukan bentuk akhir sebuah tayangan. Pekerjaannya dimulai dari menerima dan menata materi rekaman, menyeleksi bagian terbaik, menyusun struktur cerita, lalu mengatur ritme melalui panjang pendeknya potongan. Setelah itu ia menambahkan musik dan efek suara, menyeimbangkan tingkat audio, menyisipkan teks atau grafik, melakukan koreksi dan gradasi warna, hingga mengekspor berkas sesuai kebutuhan kanal. Untuk konten digital, ia juga memikirkan detik-detik awal yang menentukan apakah penonton bertahan. Editor sering menjadi orang yang menyelamatkan produksi ketika materi rekaman tidak lengkap, sehingga kreativitas menyusun ulang urutan menjadi keahlian penting. Tempat kerjanya meliputi rumah produksi, stasiun televisi, agensi kreatif, tim konten perusahaan, media daring, dan pekerjaan lepas. Jenjang kariernya berkembang dari asisten editor ke editor, senior editor, hingga supervisor pascaproduksi; sebagian mendalami motion graphic atau efek visual. Profesi ini cocok bagi orang yang sabar, teliti, punya kepekaan ritme, dan tahan duduk lama di depan layar. Kurang cocok bagi yang tidak nyaman dengan revisi berulang dan tenggat mendadak, karena permintaan perubahan sering datang di menit-menit akhir.
Tugas utama
- Menata dan memberi label materi rekaman
- Menyeleksi potongan gambar terbaik
- Menyusun struktur dan alur cerita tayangan
- Mengatur ritme dan transisi antar potongan
- Menambahkan musik, efek suara, dan menyeimbangkan audio
- Menyisipkan teks, grafik, atau animasi pendukung
- Melakukan koreksi dan gradasi warna
- Mengekspor berkas sesuai kebutuhan kanal tayang
Keterampilan yang dipakai
Teknis
- Perangkat lunak penyuntingan video
- Struktur naratif dan ritme editing
- Pengolahan audio dasar
- Koreksi dan gradasi warna
- Motion graphic dasar
- Manajemen berkas dan format ekspor
Non-teknis
- Ketelitian
- Kepekaan ritme dan cerita
- Manajemen tenggat
- Keterbukaan pada revisi
- Konsentrasi tinggi
Jalur pendidikannya
S1 atau D3 Film dan Televisi, Komunikasi, atau Desain (±3–4 tahun), atau jalur belajar mandiri → membangun portofolio hasil suntingan → asisten editor atau editor konten → editor senior dan supervisor pascaproduksi.
Sertifikasi atau izin yang biasanya diperlukan
- Sertifikasi kompetensi penyuntingan audio visual berbasis SKKNI
Jurusan yang mengarah ke sini
Kampus yang membuka jurusannya
Program studi terbit dengan data paling lengkap. Bukan peringkat.
-
S1 Ilmu KomunikasiA
UI Kota Depok
-
D4 Produksi MediaBaik
UI Kota Depok
-
S1 Ilmu KomunikasiUnggul
UGM Kabupaten Sleman
-
S1 Komunikasi dan Pengembangan MasyarakatUnggul
IPB Kota Bogor
-
D4 Komunikasi Digital dan MediaUnggul
IPB Kota Bogor
-
S1 Desain Komunikasi VisualTerakreditasi
ITS Kota Surabaya
-
S1 Ilmu KomunikasiUnggul
Unair Kota Surabaya
-
S1 Ilmu KomunikasiUnggul
Undip Kota Semarang
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah harus kuliah film untuk menjadi editor video?
Tidak wajib. Banyak editor belajar mandiri dan masuk lewat portofolio, meski kuliah memberi dasar naratif, teknis, dan pengalaman kerja tim produksi.
Perangkat lunak apa yang sebaiknya dikuasai?
Kuasai satu perangkat lunak utama sampai lancar. Prinsip penyuntingan berlaku lintas alat, sehingga perpindahan menjadi lebih mudah setelah dasarnya kuat.
Apa yang membedakan editor yang baik?
Kemampuan menyusun cerita dan menjaga ritme, bukan sekadar menguasai transisi atau efek visual yang mencolok.
Sumber: Kompilasi Universitas.id Diperbarui deskripsi disusun sendiri, bukan salinan sumber mana pun